Sabtu, 25 Februari 2012

CARA MEMBUAT DIRI BERSEMANGAT DALAM BELAJAR

CARA MEMBUAT DIRI BERSEMANGAT DALAM BELAJAR
          Untuk membuat diri bersemangat sebenarnya tidaklah sukar kalau tahu caranya. Caranya yaitu dengan melihat, memperhatikan dan mengamati orang-orang yang mempunyai semangat yang menyala-nyala. Selidikilah apa sebab mereka bersemangat, apa yang mendorong mereka bersemangat apa yang sebenarnya terdapat dalam diri mereka, apa yang mereka rasakan sehingga semangat mereka begitu tinggi? Setelah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas, maka pratekkanlah hal-hal tersebut, peliharalah dan biasakanlah. Tak ayal bagi anda akan memiliki semangat yang tinggi seperti mereka, bahkan dapat melebihi.
            Diantara faktor yang menyebabkan  seseorang memiliki semangat yang tinggi :
1.      Tertarik dan cinta kepada yang mereka hadapi. Apa yang dibutuhkan orang dalam pendidikan diri sendiri ialah perasaan yang kuat dan teguh serta dapat mendorong diri sendiri. Digambarkan seperti seorang pemuda yang sedang di mabuk cinta dan ngebet untuk ketemu pacarnya. Walaupun sudah letih belajar seharian ia masih bisa berjalan berjam-jam tanpa merasa lelah. Maka untuk membuat diri bersemangat anda harus cinta kepada sesuatu yang anda hadapi untuk mencapai tujuan. Antusiasme yang demikian menggelora itu akan membebaskan tenaga-tenaga yang anda sendiri tak menyangka.

2.      Mempunyai tujuan dan target yang hendak dicapai. Ada maksud tertentu dari pekerjaan yang di hadapi. Ada uadang di balik batu. Kalau anda mempunyai maksud dan tujuan tertentu dari suatu pekerjaan, maka anda akan bersemangat tinggi mengerjakan segala macam tugas/pekerjaan yang dapat mencapai maksud dan tujuan anda. Bahkan anda pasti mencari-cari pekerjaan/tugas tersebut dengan giat.

3.      Keinginan untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Secara kasar boleh dikatakan keinginan untuk memperoleh kekaguman dari masyarakat, ingin menjadi masyhur dan terkenal, dan bermanfaat atau berjasa kepada masyarakat tentu akan selalu berbuat kebaikan, mengerjakan pekerjaan/tugas yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baiknya, bahkan biasanya mau mengerjakan lebih dari yang diminta. Hal demikian menunjukan adanya tenaga dan semngat yang tinggi dalam dirinya.

4.      Adanya rasa persaingan dan perlombaan sehingga masing-masing pihak berkeinginan untuk melebihi atau mengungguli pihak lainnya. Hal ini menimbulkan semangat juang pada kedua pihak dan sudah barang tentu antusiasme yang tinggi senantiasa menyertai mereka. Berlomba-lombalah dalam kebaikan dan mencapai kebahagiaan tanpa menyisihkan atau mengorbankan orang lain.
5.      Adanya harapan dari orang lain dan ia sendiri ingin menggembirakan dan membahagiakan orang yang mengharapkannnya itu. Hal ini akan mendorong untuk bekerja dengan lebih bersemangat sampai berhasil, lebih-lebih kalau orang yang akan di bahagiakan itu sangat memperhatikannya.

6.      Karena menjadi atasan atau pucuk pimpinan. Ia selalu berusaha menjadi contoh baik lagi anggota atau pengikut-pengikutnya untuk dapat menjaga gengsi dihadapan mereka. Hal ini menjadikan orang tersebut tidak mudah letih meskipun sebenarnya ia sudah letih. Keletihan itu biasanya tidak begitu dirasakan. Ini disebabkan adanya rasa tanggung jawab akan tugas yang dipikulkan padanya dan kedudukannya sebagai pemimpin.


7.      Ingin meniru orang-orang maju dan sukses. Ia mempunyai dan ingat akan masa depan. Oleh karena itu ia meminta nasehat khusus kepada orang yang akan dicontohnya dan hal-hal lain yang menjadikannya sukses. Nasehat-nasehat ini sangat diperlukan, sebab apa yang diberikan itu bisa menambah atau membakar semangat pada dirinya meskipun kadang-kadang hanya bersifat sementara dan selanjutnya hilang tau padam lagi.

8.      Mengerjakan pekerjaan atas pilihan kemauan sendiri, lebih-lebih kalau pekerjaan itu merupakan bakat atau hobinya. Dengan demikian orang itu dapat mengerjakan pekerjaannya dengan mudah dan enak. Semangat yang ada pada orang itu timbul karena kesenangan dalam bekerja.


9.      Mengerjakan pekerjaan yang melangsungkan hidup atau mengancam kebahagiaannya. Misalnya mengerjakan pekerjaan besar upahnya dan dapat menambah pemasukan sehari-hari. Atau ujian untuk memperoleh  tingkat, pangkat dan kedudukan yang lebih tinggi dan lebih enak. Dengan dorongan-dorongan tersebut seseorang akan giat bekerja/belajar.

10.  Memiliki energi/tenaga yang banyak dan kepercayaan diri bahwa ia sanggup dan mampu mengerjakan pekerjaan yang sedang dihadapi. Lebih-lebih kalau ia berani mengucapan “ aku bisa dan saya sanggup mengerjakan sendiri “. Maka ia akan berusaha keras untuk membuktikan apa yang sudah diucapkannya. Ia bekerja sengan tekun dan tabah menghadapi berbagai rintangan dan godaan. Ia selalu berfikir positif, bersifat optimis, dan tahu bahwa sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.


11.  Mempunyai cita-cita dan ada sesuatu yang sangat diharapkan sehingga ia dapat memusatkan perhatiannya pada pekerjaan yang dihadapi. Ia dapat memilih mendahulukan pekerjaan-pekerjaannya yang dianggap lebih penting. Pekerjaan-pekerjaannya dapat diselesaikan dan dibereskan dengan baik. Kalu semua pekerjaannya dapat selesaikan segera, maka ia seakan-akan hanya menghadapi sedikit pekerjaan. Hal ini membuat bersemangat, tidak ogah-ogahan atau malas untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan yang berdatangan dihadapinya.
Demikian diantara faktor-faktor yang menyebabkan mengapa seseorang menjadi begitu bersemangat. Kalau anda telah memiliki semangat yang menyala-nyala untuk berbuat dan bekerja otomatis hal ini akan menghilangkan/mengusir rintangan-rintangan anda sepeti malas,ogah-ogahan, mudah mengantuk, melamun, lesu, bosan dan lain sebagainya. Kita yakin bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan; Siapa bersungguh-sungguh pasti mendapatkan dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti datang kemudahan. Mohonlah pertolongan kepada Allah untuk mencapai cita-cita dengan disertai usaha, sabar dan shalat. Dengan cara ini insya Allah Tuhan akan mengabulkan apa yang anda cita-citakan.
Ditulis kembali oleh : Ogi Reza Pratama.
Sumber dari               : buku “KUNCI SUKSES BELAJAR” oleh
Drs. Judi Al-Falasany dan Drs. Fauzan Naif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar